Home > Pers > [Berita] Horor Jimat Cakar Monyet
CM4

Berita | Salihara.org | 04-05-2014

Mainteater Bandung memindahkan keseraman jimat cakar monyet ke Teater Salihara. Jumat-Sabtu (04-05/04) lalu mereka menjadi kelompok keempat yang tampil di Helateater Salihara 2014. Memainkan lakon Cakar Monyet yang disadur dari cerita pendek “The Monkey’s Paw” karya W.W. Jacobs, Mainteater menunjukkan bahwa ketegangan yang mendirikan bulu roma tidak harus berasal dari sosok menakutkan. Cerita yang membumi, kekuatan pemeranan serta tata artistik Mainteater menghadirkan ketegangan sekaligus teror menyeramkan bagi penontonnya.

Mengambil latar cerita di pinggiran kota Bogor, Cakar Monyetdibuka dengan kehangatan keluarga kecil pensiunan pegawai negeri sipil. Ayah bermain catur melawan anaknya, ibu menyiapkan minuman hangat. Mereka asyik dengan pembicaraan-pembicaraan seputar strategi bermain catur sembari menunggu kedatangan Mayor Untung, teman lama sang ayah. Tamu yang ditunggu akhirnya datang dan meninggalkan jimat cakar monyet dari pedalaman Kalimantan. Jimat itu mampu memenuhi tiga permintaan.

Hingga adegan sang ayah iseng mencoba kemujaraban jimat itu, lakon Cakar Monyet masih terkesan lambat. Dialog panjang dengan bahasa kaku memberondong penonton. Tentang permintaan sang ayah agar mendapat uang Rp 125 juta untuk membeli tanah di pinggir kali dan olok-olok anaknya, Agus, sama sekali tidak memberi ketegangan. Rasa mencekam mulai muncul setelah sang ayah menerima kabar kematian Agus dan dua pegawai tempat Agus bekerja kemudian datang membawa uang santunan dan asuransi yang jumlah seluruhnya

Rp125 juta, persis jumlah yang diminta sang ayah melalui cakar monyet itu.

Panggung Cakar Monyet kemudian menjadi suram seiring depresi yang diderita sang ibu yang kerap menunggui kubur anaknya. Dalam keputusasaannya sang ibu memaksa suaminya mengajukan permintaan kedua, menghidupkan Agus. Permintaan itu dituruti dengan sangat terpaksa walau si ayah sudah menjelaskan wajah Agus saat tewas sama sekali tak dikenali akibat hancur tertimpa bangunan. Lampu panggung makin gelap seiring suara langkah berat disusul gedoran pintu, sebagai tanda Agus hidup kembali alias bangkit dari kubur.

Polah dan racau sang ayah yang ketakutan ditimpali teriakan lantang sang ibu yang siap memeluk mayat hidup Agus mengantar penonton pada klimaks ketegangan khas film horor. Hingga di detik terakhir, ketika sang ibu ingin membukakan pintu untuk anaknya yang hidup kembali, sang ayah mengucap permintaan terakhir agar anaknya kembali ke kubur.

“Awalnya klimaks cerita berakhir pada saat tokoh ayah selesai mengucapkan permintaan ketiga,” ujar Sahlan Bahuy, asisten sutradara Cakar Monyet. Menurutnya, sutradara Wawan Sofwan kemudian menambahkan adegan sang ibu merebut jimat cakar monyet sembari mengacungkannya untuk mengucap permintaan. Tiba-tiba lampu padam, pentas pun usai.

Sahlan menyebut, Cakar Monyet disiapkan selama tiga bulan dengan proses perubahan di sana-sini seiring latihan. Pemilihan Bogor dan jimat asal Kalimantan Sahuy sebut bukan tanpa alasan. Bogor yang urban dan kekentalan mistis pedalaman Kalimantan menjadi cara mendekatkan lakon saduran itu dengan penonton maupun pelakonnya. “Dalam melakukan adaptasi cerita kami melakukan riset, bertemu dengan kawan-kawan yang sering bersinggungan dengan dunia mistis maupun riset pustaka,” kata Sahlan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*