Home > Karya > KEMBALI (TILBAKEKOMSTENE) KARYA FREDRIK BRATTBERG

529186_10201518834310446_1834019069_n

Sebuah catatan sutradara tentang pementasan “Kembali” (Tilbakekomstene) Karya Fredrik Brattberg
* Oleh Sahlan Bahuy

Barangkali siapa pun di dunia ini pernah merasakan kehilangan. Dari mulai kehilangan hal-hal yang dianggap remeh sampai pada kehilangan yang dianggap paling berharga dan istimewa. Dari mulai kehilangan gunting kuku, kaos kaki, sampai pada kehilangan kepercayaan, cinta dan harga diri. Kehilangan kadang lantas membuat kita menjadi gelisah, kecewa, dan putus asa. Lalu kemudian seribu praduga menyergap kita. Swak-prasangka membabi-buta menyerang pikiran. Segala pertanyaan dan perenungan mengharu hidup kita.

Barangkali untuk sebuah kehilangan yang visual, yang mewujud, kita masih bisa melacak jawabannya. Konsep ruang-waktu-prilaku yang nyata bisa menjadi modal menemukannya. Pertanyaan-pertanyaan kepenasaranan bisa dirunut: dari kapan dan dimana terakhir kali kita menyimpannya. Siapa yang mungkin mengambil dan sebagainya. Namun apa jadinya jika yang menghilang itu rasa, pikiran, semacam harga diri atau ideologi? Sesuatu yang tidak cukup dibaca oleh konsep ruang dan waktu yang sementara dan mewujud itu? Maka mungkin saja, lalu timbul kritik di dalam diri. Mau tak mau jawaban atas kehilangan itu harus kita baca lewat skema pikiran, kelindan sunyi-senyapnya perasaan, sirkulasi kecerdasan akan ingatan atau lewat penghayatan pengalaman dan sebagainya.

Kehilangan seperti itulah yang dialami pasangan suami-istri dalam kisah “Kembali”. Kehilangan seorang anak yang bukan saja sebagai raga (wujud), sebagai pertumbuhan buah telur dan sperma, gumpalan darah yang lahir dari rahim istrinya tapi juga anak sebagai citraan semangat, harapan, mimpi dan cita-cita atau bahkan bisa jadi bentuk cinta perjalanan kepercayaan, dan ideology hidup mereka. 20 tahun pasangan suami-istri, itu merasa kehilangan. Rasa kehilangan yang lantas membuat mereka menjadi “gila.” Yang membuat gumpalan tubuh mereka menjadi “disfungsi”. Demikianlah, “Kehilangan tidak pernah meninggalkan ketiadaan, tapi senantiasa meninggalkan jejak yang kadang kita luput ditapaki kembali!”

Lay out Panggung-page-001Catatan Proses
Naskah “Kembali” memiliki tingkat kesulitan untuk diungkai. Khususnya memahami pengaluran dan latar. Rentetan alur tidak sintagmatis, tidak bergerak linier. Tidak semudah mengeja susunan alfabet. Misalnya, peristiwa tidak dimulai dari huruf A tapi dari huruf X, atau jika peristiwa berada di huruf S maka lanjutan peristiwa tidak ke huruf T tapi ke huruf B atau H. Dan terkadang alur berputar dari A ke B lalu ke A dan kembali lagi ke B. Latar waktu tidak dijelaskan secara tegas, masa lalu, kini dan nanti menjadi bias. Latar ruang pun samar, antara realitas kehidupan dan realitas pikiran terkadang hadir bertumpuk.

Tugas berikutnya adalah menyiasati peristiwa yang berulang. Dalam beberapa adegan, terjadi beberapa pengulangan peristiwa secara konstan. Penyiasatan dinamika terhadap pengulangan ini berusaha dielaborasi sedemikian rupa supaya peristiwa tidak terasa monoton, supaya peristiwa yang hadir tetap intens, berirama dan berbunyi. Dalam hal ini, musik akan berperan memperkuat dinamika peristiwa.

Lay out Panggung-page-002

Setting panggung yang disarankan oleh naskah ini adalah sebuah rumah yang terdiri dari pintu masuk, pintu kamar ayah, pintu ke kamar gustav, jendela, ruang tamu dan dapur. Ruang yang tampak menonjol adalah tiga ruangan, yakni ruang tamu, ruang antara (dapur dan tamu), ruang makan. Ruang makan sengaja diletakan di tengah. Ruang ini cukup sentral dan dominan dalam beberapa peristiwa di naskah ini. Ruang yang berimplikasi pada ruang-ruang lain, ruang yang mewujud (ragawi) bahkan nirwujud (batin, pikiran, dll). Aktifitas makan merupakan aktivitas primordial manusia. Di dalam aktivitas makan, ada relasi antara aktivitas makan dengan relasi psikologis yang terbentuk di baliknya. Makan tidak hanya sekedar aktivitas biologis, memasukan makanan ke dalam tubuh supaya kenyang, tetapi aktivitas yang (bisa) berimplikasi pada relasi lain, seperti psikologi maupun simbolik.

Sarana primer dalam pertunjukan ini menyandarkan pada rentetan dialog. Ada dua model dialog yang hadir dalam naskah ini, pertama; dialog dalam adegan dengan lawan main, dan kedua; dialog yang berbicara pada penonton. Kedua model dialog itu berimplikasi pada kemungkinan penonton larut dalam peristiwa sekaligus juga memberikan jarak pada penonton dengan peristiwa yang berlangsung. Pengucapan dialog model kedua coba diungkapkan tanpa upaya mendramatisir peristiwa dengan perasaan berlebihan. Terlontar begitu saja, sekedar memberikan informasi, layaknya membaca berita. Pada saat itu, penonton tentu saja dapat menyikapi dengan perasaan beragam, tergantung pada penyikapan penonton terhadap informasi yang dilontarkan tokohnya. Penonton diberikan ruang untuk memproduksi imajinasi dan perasaannya sendiri.

Secara keseluruhan naskah ini menebarkan aroma –apa yang kita sebut dengan- absurditas. Saya menyadari dalam setiap proses penerjemahan, reduksi arti, makna dan rasa menjadi sesuatu yang niscaya. Walaupun begitu, dengan kerendahan hati, semoga pementasan ini tidak menghilangkan seluruh makna yang terkandung di dalamnya dan bisa diterima khalayak luas.

Demikianlah beberapa catatan ringkas sutradara. Tentu masih banyak kekurangan dan luput dari catatan. Selanjutnya, yang paling berharga adalah apresiasi dari hadirin sekalian. Koreksi maupun kritik akan bermanfaat guna menjelajahi pelbagai kemungkinan dalam penciptaan seni sebagai bagian dari membaca, menyingkap dan menyikapi kehidupan dunia yang semakin cepat berubah ini. Tabik!

* Sutradara Pementasan Teater “Kembali”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*