Home > Pers > Bertangkap Lepas dengan Tafsir
mainteater | Kliping Berita | Panji | 6 September 2000

Bertangkap Lepas dengan Tafsir


Dramatic Reading: Naskah Also Sprach Zharathustra dibacakan di Goethe Institut. Meruang perayaan tafsir yang tak terpermanai atas sosok dan pemikiran penulisnya. Frederich Nietzche.

Bertepatan dengan seratus tahun kematian Nietzche di ruangan sempit di komplek Goethe Institut Matraman, Jakarta. Jumat pecan lalu, filsuf Jerman hidup kembali. Bukan lewat suatu kehadiran, melainkan pada rekaan khayali dan khutbah mendidih Also Sprach Zharathustra (Maka bersabdalah Zharathustra), yang dibacakan dengan penjiwaan teatrikal yang baik oleh Wawan Sofwan, dari Mainteater Bandung-Melbourne.

Lewat lantunan sabda-sabda Zharathustra yang penuh percikan bunga api dan padat dengan pawai aforisma yang menggugah permenungan, bayangan kegarangan, dan kegilaan. Nietzche seakan kembali mendedahkan pesona: menyelusup, menggetarkan, dan membuncah setiap hati yang mendengarnya.

Pada gelegar sabda Zharathustra, kita seperti mendengar Nietzche berseru, memberontak Tuhan: “Aku hanya akan percaya pada Tuhan yang bisa menari, Dan ketika aku melihat iblisku, kulihat ia serius, teliti, dalam dan khidmat: itulah semangat yang gawat!” Di kedalaman sabda-sabda Zharathustra pula kita seperti merasakan erangan kerinduan Nietzche pada “purna manusia” (Uebermensch): “Benar, sebuah sungai besar yang kumuh ialah manusia itu. Orang seharusnya menjadi laut lebih dahulu untuk dapat menampung sungai kumuh, tanpa harus menjadi tidak jernih.”

Kegemasan dan kemarahan Nietzche atas kebodohan manusia yang menyerahkan jiwanya kepada (lembaga) Tuhan, sehingga dia berseru: Tuhan sudah mati!, merupakan pernyataan kemerdekaan seorang eksistensialis yang siap binasa, untuk mereguk kehidupan dengan seluruh misterinya (keyakinan. yang juga telah mengilhami Camus untuk membayangkan Sisipus sebagai terhukum yang berbahagia)

Sebab itu. Nietzsche, juga berseru tentang keutamaan “manusia super”, sebagai upaya membebaskan diri dari mentalitas “kawanan”, yang telah meringkus hidup manusia dalam mentalitas yang “setengah-setengah”. Ia pun kemudian menawarkan ide “moralitas tuan” sebagai jalan mencari kemungkinan-kemungkinan agar manusia tidak ditelan oleh naluri konformis, naluri konsumtif. dan naluri moralistis.

(Makna pembebasan dalam “moralitas tuan” ini penting untuk digarisbawahi. Karena, dalam catatan sejarah. Moralitas ini pernah menimbulkan bencana. Saat Hitler dan kelompok Nazi-nya memanipulasi maknanya sebagai moralitas yang merujuk pada moralitas ras tertentu, Aria.)

Nietzsche yang sangat mengagumi seni Dionisian (Yunani) dan menolak bergabung dengan seni romantik (yang dominan pada masa hidupnya), memang menulis Also Sprach Zharathustra untuk menggairahkan hidup agar tak pudar oleh temuan-temuannya sendiri. Meminjam kalimat St. Sunardi (Kalam Edisi 8. 1996). Nietzsche menggubah karya ini untuk menyingkapkan kembali tebing-tebing yang dalam, curam, dan menakutkan agar hidup memberikan resonansi.

Karenanya, tak bcrlebihan kiranya bila musikus Richard Stauss, yang membuat karya musik dengan judul Also Sprach Zharathustra (pernah dicomot Stanley Kubricks. sebagai musik latar filmnya, 2001: A Space Odissey -drama futuristik yang kental dengan renungan eksistensial) menyebut karya Nietzsche sebagai “opera tanpa kata”. Karena, meski tanpa biola, violin, atau trombon. Also Sprach Zharathustraadalah kumpulan sonet yang menggemakan simfoni Dionisian.

Perayaan Tafsir. Also Sprach Zharathustra adalah salah satu karya Nietzsche yang paling sulit dipahami. tapi paling mudah dinikmati. Ambigu inilah yang mungkin melahirkan anggapan. karya ini merupakan “Salah satu hasil sastra dunia yang paling banyak dibaca tapi paling jarang dipahami”, Diterbitkan pertama kali pada 1885. karya yang ditulis dalam bahasa puitis berwarna tembang (rapsodi) ini memang lebih menggairahkan untuk dinikmati sebagai karya sastra daripada tesis filsafat. Mengutip Betrand Russel. Filsuf lnggris yang menyebut Also Sprach Zharathustra sebagai -pseudo-prophetical book- sastra setengah bernabi-nabi, Nietzsche memang lebih pantas disebut sastrawan daripada seorang filsuf.

Meski Also Sprach Zharathustra mirip karya sastra. Intensi Nietzsche ketika menulisnya bisa dlpastikan adalah tesis filsafat. bukan pretensi estetik. Bisa jadi, sifat sastrawi yang muncul dalam karya ini adalah akibat upaya Nietzsche untuk menularkan gelora semangat hidupnya, yang meluap, dan tak terwadahi hanya pada dictum-diktum filsafat.

Hal ltu memang dimungkmkan karena-mengutip cerpenis Seno Gumira Ajidarma (9/1999) meski definisi teoretisnva berbeda, secara konkret hubungan antara sastra dan fllsafat akan menjadi upaya saling membebaskan. Sastra akan mernbebaskan filsafat yang ingin melepaskan diri dari mekanisme hukum-hukum penalaran, sedangkan filsafat akan menarik dan mengarahkan teknikalitas estetik dalam kesusastraan kepada suatu paradigrna baru yang menantang.

Lantaran isinya yang cenderung sastra filosofis dan lebih hernilai “subjektif” ketimbang “objektif”, maka Also Sprach Zharathustra menjadi karya yang sangat terbuka pada perayaan tafsir.

Perayaan tafsir ini pula yang bisa kita cerap dari pembacaan dramatik, naskah “Awal Bicara Zharatustra”, pembuka dalam karya Also Sprach Zharathustra oleh Wawan Sofwan. Dengan pementasan yang berkonsep “pembacaan dramatic dan bukan pemanggungan lewat “teater/drama” ini. karya besar Nietzsche tetap meruangkan perayaan tafsir yang (lebih tak tepermanai. Karena penonton utau pendengar lebih bebas menafsir dan tak seperti dalam teater yang haruss berbagi dengan penerjemahan sutradara serta pcrmainan para aklor.

lni bukanlah hal asing dalam dunia kesenian kita. Karena, yang dikerjakan bekas aklivis teater Studiklub Bandung ini nyaris tak jauh berbeda dengan yang dilakukan para dalang wayang kulit kita. [MAs’AD T.]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*