Home > Pers > Sudut Siku Zarathustra
mainteater | Kliping Berita | GATRA | 2 September 2000

Sudut Siku Zarathustra


Wawan Sofwan membacakan karya Nietzsche. Banyak dibaca, tapi jarang dipahami.

“Lihatlah, Aku mengajarkan kalian tentang Purna Manusia. Purna manusia itu inti makna dunia. Kehendak kalian mungkin mengatakan Purna Manusia kiranya Makna Dunia!” teriak Zarathustra dalam gaya khotbah mendidih. Ungkapan Filosofis ini hanyalah sebuah penggalan karya Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra (Maka bicaralah Zarathustra). Nietzche adalah filsuf, penyair, dan akademisi klasik Jerman.

Adapun yang dibaca dengan cukup apik oleh Wawan Sofwan, pentolan Mainteater yang berdomisili di Bandung dan Melbourne, Australia, adalah penggalan karya besar itu, yang dinamai Awal Bicara Zarathustra. Monolog itu dipentaskan Galeri Barak, di Bandung. Rabu pecan lalu. Kemudian, pada 25 Agustus, persis seabad kematian Nietzsche, Goethe Institut, Jakarta, menggelarnya.

Disini, karya Nietzsche hanya dikenal sebatas kalimat serapah: “ Tuhan sudah mati.” Gaungnya ditandai puisi Iwan SImatupang, Ada Dewa Kematian Tuhan, in memorian Fr. Nietzsche, 25 Agustus 1900, yang diterbitkan majalah siasat, 31 Agustus 1952. Kalangan umum menganggap Zarathustra sebagai “salah satu karya paling banyak dibaca, tetapi paling jarang dipahami”.

Adalah Dami N. Toda, Lektor Lembaga Studi Indonesia dan Pasifik, Universitas Hamburg, yang memunculkan pertama kali Zarathustra dalam bahasa Indonesia. Monolog Wawan Sofwan itu dilantunkan dalam Sembilan episode, yang selalu ditandai pukulan triangle.

Padahal, seperti diakui Dami N. Toda, “bahasa Nietzsche” tidaklah mudah ditangkap satu-satu kata dan disimpulkan dengan pemahaman bahasa sederhana. Nietzsche menamakan gaya bahasanya rechtwinklig-bersudut siku-siku. “Terkadang isinya dipilin-pilin dalam ragam pscuda mitos bangunan purba yang cukup fantastis bersudut siku-siku jua,” tulis Dami dalam pengantar buku terjemahan itu.

Penampilan Wawan, yang mengenakan busana serba hitam, cukup prima. Artikulasinya sangat jelas saat melantunkan tutur kata puitis Zarathustra. Kelembutan suara Wawan terasa sangat Zarathustra berkata kepada seorang sekarang dengan tubuh ngeri berantakan dan luluh lantak. “Demi rasa harga diri aku, Kawan,” kata Zarathustra, “Tak berujung pangkal apakau bilang: Taka da setan dan taka da api neraka….”

Stamina yang sangat prima cukup menopang kala Zarathustra mengumbar kotbah mendidih, meletup-letup, bak palu godam yang menghantam apa saja. “Suatu waktu dahulu mendurhaka kepada Tuhan adalah pendurhakaan teramat besar, tetapi Tuhan telah mati, maka mati pula pendurhaka itu,” pekik Zarathustra. Begitu pula, kala Zarathustra bertutur yang amat lincah memainkan suaranya: keras-lembut, sangat cepat hingga sangat lembut. Dari pekik, menukik lemah, Lirih.

“Saya memang sudah cukup lama mempelajarinya, sejak buku ini terbit Mei lalu.” Kata Wawan, yang pernah memonologkan Dam, karya Putu Wijaya, secara marathon di Hamburg, Koln, dan Amsterdam. Menjelang manggung, Wawan berlatih intensif selama tiga pekan. “Yang jelas, saya sangat menyukai karya terjemahan ini. Bahasanya sangat bagus,” kata Wawan, yang sudah belasan kali manggung dan menyutradarai pementasan teater di Tanah Air dan Australia.

Soal karya Nietzsche ini, bagi Wawan bukan sesuatu yang baru, Jerman cukup dekat dengan kehidupannya. Dimulai ketika Wawan mendapat kesempatan belajar bahasa Jerman, atas biaya Goethe Institut, pada 1995. Diawal tahun ini, Wawan terbang ke Berlin mengikuti Internasionales Forum Junger Buhnenangehoriger”.

Kalau boleh disebut kekurangannya, Wawan hanya sempat keseleo lidah tiga kali. Cengkok sundanya terpeleset saat melafalkan “Zarathustrak”. Namun, terlepas dari itu, pementasan ini pantas disambut gembira. Di Jerman, seabad kematian Nietzche, mengelar pameran besar. Zarathustra memang karya sastra gemilang yang menggugah permenungan dalam sebad ini. [Dipo Handoko]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*