Home > Pers > Zarathustra dan Paradoks Sang Aktor
mainteater | Kliping Berita | DeTAK | 4 September 2000

Zarathustra dan Paradoks Sang Aktor


Dengan pendekatan dramatic reading, aktor Wawan Sofwan mengaku ingin menghindari penafsiran pribadi atas Zarathustra-nya Nietzche. Bukankah tiap text selalu terbuka, dan membaca senantiasa berarti memproduksi makna?

Nietzche sudah mangkat seratus tahun lewat. Dan kalau hari-hari ini orang mengenang kematiannya tidaklah berarti memanggil leluhur dari lubang kubur. Lagi pula, dalam periode seabad, rupa-rupa pikiran baru telah mencuat. Bahkan ada yang terdengar seperti Nietzche taktala mempermaklumkan kematiam Tuhan: bahwa pengarang sudah mati. Orang bilang, begitu text ditulis, pada saat itu pula pengarang habis. Yang tersisa hanyalah text itu sendiri yang selamanya terbuka bagi tafsir dalam jumlah tak terhingga.

Maka munculah paradox ketika orang membaca Nietzche tapi tetap percaya bahwa ada semacam tafsir tunggal milik sang pengarang. Inilah sebuah musibah taktala pembaca seakan terbunuh oleh hantu pengarang.

Demikianlah kiranya yang terjadi dalam upaya aktor Wawan Sofwan membaca Also Sprach Zarathustra, karya termasyhur mendiang Friedrich Wilheim Nietzche. Yang dibacakan oleh wawan adalah bagian awal dari jilid pertama kitab itu hasil terjemahan Dami N. Toda bertajuk, Maka Berbicaralah Zarathustra. Pentasnya digelar didua tempat: di Galeri Barak, Bandung, 23 Agustus lalu, dan di Goethe institute, Jakarta, 25 Agustus lalu.

Yang dilakukan Wawan adalah menaruh Zarathustra di atas podium berupa sepasang balok setengah badan, dalam pengawasan Sembilan lampu sorot yang berpendaran bergantian. Dan selama satu jam ia terpaku di situ membacakan naskahnya. Tentu ada sejumlah air muka dan serangkaian gesture yang diperlihatkan. Namun dalam tingkatan tertentu, boleh dibilang Wawan tidak berakting. Ia hanya membacakan naskah dengan rupa-rupa karakater vokal yang memang mengagumkan, mulai dari suara lelaki tua yang terhimpit dada hingga suara Zarathustra sendiri yang menggelegar.

Dengan begitu, pentas Wawan kali ini lebih bertumpu pada olah vokal. Ia nyaris tak mengeksplorasi panggung sama sekali. Kalau Anda usil, mungkin timbul usul: tidakah lebih sebaiknya naskah itu cukup dibacakan lewat corong radio biar lebih banyak public bisa menyimak? Tapi baiklah, itu mungkin berlebihan dan bisa berkesan tidak adil. Yang pasti, penekanan pada olah vokal sedemikian adalah konsukuensi logis dari begitu pentingnya sang aktor mendudukkan naskah.

“Mengapa Anda membawa naskah ke panggung?” tanya DeTAK, seusai pementasan.

“Khan dramatic reading. Saya sebetulnya hafal naskahnya. Tapi saya sengaja tidak memperagakan monolog. Dengan pendekatan ini saya berusaha agar penafsiran saya pribadi atas naskah itu tidak terlalu banyak mempengaruhi pembacaan,” jawab aktor yang belakangan ini berkarya diluar lingkaran almamaternya, Studiklub Teater Bandung (STB) itu.

Kalau Anda suka dengan pendekatan demikian, berterima kasihlah kepada Wawan yang telah memperkaya tradisi membaca di panggung kesenian kita. Kan di samping poetry reading ada juga dramatic reading. Dan bagi Wawan sendiri, yang belakangan suka mementaskan monolog dalam versi yang lebih “serius” ketimbang Butet Kertarejasa, metode ini mungkin juga jadi bagian dari penjelajahannya untuk mencari kebaharuan di panggung pertunjukan.

Namun kalau Anda tak bersetuju dengan dia, boleh jadi muncul rasa curiga: jangan-jangan pangkal soalnya terpaut pada perkara hafal menghafal. Setidaknya, dalam pementasan di Goethe Institut, dia sempat tiga kali terpeleset baca. Dan jelas tak gampang mempersiapkan pembacaan atas naskah sebanyak 24 halaman dalam waktu sekitar dua minggu. Tapi kan Wawan tadi bilang sebetulnya dia sudah hafal naskah itu. Yang jelas, apapun pangkal soalnya, mendudukan naskah pada tempat yang begitu tinggi tentu bisa merangsang timbulnya perdebatan seputar perkara penafsiran.

Siapapun tahu, membacakan sebuah naskah, seperti yang dilakukan Wawan, adalah penafsiran tersendiri. Setidaknya, dia menetapkan karakter vokal lainnya untuk tokoh yang lain lagi. Jangankan itu, bahkan penerjemahaan atas sebuah naskah, seperti yang dilakukan oleh Dami N. Toda, juga merupakan tafsir tersendiri: suatu ikhtiar mensenyawakan dua bahasa yang sebetulnya hamper mustahil. Sampai-sampai orang sering berkata, “the translator is the traitor” (penerjemah itu penghianat). Contohnya, kata “Uebermensch” diterjemahkan “Purna Manusia” dan bukan-misalnya saja- “Manusia-Oke-Banget”. Ringkasnya, begitu Wawan naik mimbar, sesungguhnya telah terjadi sekian lipat penafsiran.

Yang lebih merisaukan adalah kenyataan bahwa mempertahankan maksud pengarang, sebagaimana menerjemahkan sebuah naskah, sungguh merupakan sejenis kemustahilan tersendiri. Jangankan isi kepalanya, sedangkan tampangnya saja tak mungkin di duplikasi sepenuhnya. Misalnya, yang sering kita lihat Nietzche adalah sepotong tampang dengan kumis yang minta ampun lebatnya seakan-akan di belakangnya terdapat sejumlah besar rahasia. Sementara matanya adalah sepasang sorotan yang begitu tajam seolah-olah bisa menerobos batu cadas. Sedang Wawan tampil dengan wajah tak berkumis dan sorot mata yang jauh lebih lembut. Di situ saja sudah terbentang sebuah jurang yang lumayan lebar.

Walhasil, ada kesan, Wawan membacakan Zarathustra sonder kemerdekaan dan keberanian berfikir (baca: menafsir) yang sesungguhnya diwariskan oleh Nietzche. Dan untuk dia, juga Anda, kiranya dapat diajukan sebuah pertanyaan: ketika kini rupa-rupa sosok ala “Uebermensch” sudah begitu banyak bertaburan, mulai dari James Bond hingga Ksatria Baja Hitam, masih perlukah kita terlampau “serius” membaca Nietzche. [Hawe Setiawan]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*