Home > Karya > Tawaran Cakar Monyet

Ulasan pertunjukan “Cakar Monyet” karya W. W. Jacobs

Oleh: Wicaksono Rendra*

Siapa yang menyangka sebuah keluarga kecil nan harmonis bisa remuk kebahagiaannya hanya karena sebuah cakar monyet yang dikeringkan.

Sebuah studio teater STSI Bandung penuh dengan penonton. Panggung menyala setelah sebelumnya musik mencekam menggiring penonton agar larut ke situasi dan suasana panggung. Dua orang masuk. Duduk di sebelah kanan panggung yang terdapat satu set meja dan kursi santai. Mereka adalah Agus dan Ayahnya. Sedang asik bermain catur di tengah suasana hujan. Ditengah-tengah permainan mereka, lalu sang Ibu masuk melaksanakan tugasnya. Ia membawakan kopi dan beberapa camilan untuk menemani Agus dan Ayah yang sedang asik bertempur.

Menggambarkan harmoni sebuah keluarga kecil yang serba cukup dan bahagia. Di tengah-tengah permainan, mereka berbincang-bincang kemana suka. Membicarakan tentang catur, pekerjaan anaknya yang seorang insinyur di sebuah perusahaan ternama di kota itu, dan pengalaman-pengalaman Ayahnya tentang kehidupan dan kenalan-kenalannya. Tersebut dalam kenangan ayahnya, Ia mengenal seorang tentara berpangkat Mayor yang bernama Untung. Lalu sang Ayah menceritakan keanehan-keanehan pada dirinya hingga tidak lama kemudian Mayor Untung datang dengan membawa seubah tas merah berbahan kulit.

Mayor Untung adalah sahabat Ayah. Mereka menjalani banyak hal bersama dari mulai yang konyol, serius, bahkan berbau klenik dan magis. Sebelumnya, Mayor Untung bercerita bahwa Ia seorang Pecinta Alam. Ia senang bertualang ke seluruh pelosok Indonesia. Banyak hal terjadi padanya termasuk ketika ia bertualang di alam liar Kalimantan, Ia mendapatkan sebuah cakar monyet yang ia dapat dari kenalannya disana. Cara mendapatkan Cakar monyet itu pun agak menyeramkan. Ketika kenalan sang mayor itu sakit ia meminta satu permintaan: kematian. Tidak lama kenalan Mayor itu pun mati dan Cakar Monyet berpindah tangan kepada sang Mayor. Maka, cakar itu dipercaya bisa mengabulkan tiga permintaan.

Awalnya, Mayor hendak membuang Cakar Monyet itu. Ia bersungguh-sungguh selepasnya dari rumah sang pensiunan PNS itu, ia akan membuang Cakar Monyet itu ke sungai. Mayor menganggap Cakar Monyet itu membawa kesialan. Namun, Pensiunan memaksa agar Cakar Monyet jangan dibuang, tetapi diberikan saja padanya. Meskipun Mayor sudah memperingati, Pensiunan tidak mempedulikannya. Pensiunan hanya akan menganggap barang itu sebagai barang antik. Berpindahlah pemilik Cakar Monyet itu.

Ayah dan anaknya, Agus, memainkan si Cakar monyet. Mereka mengabaikan peringatan dari sang Mayor. Mereka berandai-andai ingin minta apa dari Cakar Monyet yang sakti itu. Agus tidak seperti ayahnya yang ragu-ragu tentang kemampuan Cakar Monyet itu. Agus menganggap itu hanya cerita takhayul. Lalu Agus menantang Ayahnya, meminta sebuah permintaan untuk membuktikan bahwa cerita itu tidaklah benar.

Meskipun Agus mengolok-olok dan menertawakan Ayahnya yang gemetaran ketika Ayahnya tetap mengajukan sebuah permintaan. Diangkatnya si cakar monyet tinggi tinggi oleh tangan kanan ayah, dengan suara lantang dan nyaring keluar dari mulut Ayahnya: Uang untuk membeli tanah di samping rumahnya sebesar 125 Juta Rupiah. Lantas, tangan ayah bergetar, meliuk seperti ada yang menggerakan.

Satu menit, dua menit, lima menit, dan tidak terjadi apa-apa. Agus mengecek seisi rumah tapi tidak ada uang yang diminta ayahnya itu. Agus sejadi-jadinya mengolok Ayahnya. Padahal, ketika ayahnya mengajukan permintaan, Cakar Monyet itu bergerak sendiri meliuk seperti ular. Ayahnya diam. Tidak ada yang percaya padanya. Sang ibu lebih memilih perasaannya sendiri, ketakutan dan mengamini peringatan sang Mayor.

Namun ketika pensiunan ditinggal istri dan anaknya, ia diliputi rasa gelisah. Suasana rumah menjadi mencekam. Terjadi perubahan visual panggung. Gambar multimedia bergerak ditambah sound effect yang meneror. Menampilkan gambar-gambar monyet dan ketakutan sang pensiunan. Ia gelisah perasaanya, kalang kabut tidak karuan. Panggung menjadi normal ketika ia memutuskan menaruh cakar monyet di Dapur.

Setelah hari berganti, panggung dalam keadaan pagi. Pensiunan pulang dari joging pagi dan menemukan istrinya sedang menyapu rumah. Suasana baik-baik saja sampai telepon berdering. Mengabarkan kabar duka dari perusahaan anaknya bekerja. Agus meninggal karena kecelakaan kerja. Kondisinya terdengar sangat parah, mustahil untuk diselamatkan.

Dibalut busana hitam, ibunya duduk di meja makan. Menerima pelayat dan sesenggukan menangis meratapi kepergian anaknya yang sudah di liang lahat. Ayahnya datang. Mengabarkan penguburan selesai. Tidak lama, dua orang utusan perusahaan datang. Mereka datang membawa pesan duka dari Direktur dan sejumlah uang. Pertama uang santunan dari perusahaan senilai 25 juta, lalu simpanan koperasi anaknya senilai 100 juta. Ibunya pingsan mendengar jumlah uang yang sama dengan permintaan ayahnya kepada Cakar Kunyuk itu.

Ibunya mulai depresi. Mengetahui anaknya menjadi tumbal si Cakar Monyet. Benda sialan itu membuat ibunya sering ke makam Agus. Ibunya percaya bahwa Agus belum meninggal. Sang ibu dengan kesedihan dalam dadanya, memaksa kepada Ayah agar mengajukan permintaan yang kedua: menghidupkan kembali Agus! Dalam suasana mencekam, suara teror nan merinding, Ayahnya terpaksa melakukan permintaan Ibu. Suaranya lantang memenuhi ruangan. Tidak lama, suara aneh muncul dari luar rumah.

Ibunya sontak bahagia. Membukakan pintu menyambut ingin memeluk anaknya yang bangkit dari kubur. Ketakutan ayahnya tidak tertahankan ketika ia mencegah ibu untuk tidak menyambut anaknya yang bangkit dari kubur. Tanpa pikir panjang dengan suara lantang ia membuat kembali Agus untuk mati dan kembali ke liang lahatnya. Pertengkaran terjadi. Ibunya tidak menerima apa yang dilakukan ayah. Ia merebut cakar monyet di genggaman ayah. Meskipun ayahnya bersusah payah ibunya berhasil merahi Cakar Monyet itu. Permintaan dilantangkan: “Agus kembali hidup!”

Panggung gelap.

Menawarkan Realis Yang Magis

Atmosfir supranatural yang dibangun di panggung menjadi kental dalam pementasan ini. Pementasan ini menawarkan kewajaran-kewajaran akting para pemainnya dan bantuan bentuk visual panggung yang dilengkapi penyiasatan multimedia.

Secara sederhana, Garcia Marquez menyebutkan realisme magis adalah “karya sastra yang ditulis sebagaimana kakek-nenek kita bercerita dulu.” Perpaduan antara realitas yang ditabrakan dengan gagasan-gagasan irasional melahirkan plot yang berkesan “merinding”.

Kita bisa membandingkan dengan cerpen-cerpen Danarto yang mengangkat tentang realisme magis. Danarto kerap kali membawa unsur magis yang terkesan spiritual ke dalam cerpennya. Seperti pada cerpen kecubung pengasihan. Seorang bunting pemakan bunga yang menganggap dirinya mengandung tuhan.

Misalnya juga pada naskah drama pemenang festival penulisan di Norwegia yang ditulis Fredrik Brateberg berjudul The Returning (Kembali). Memunculkan irasionalitas yang sengaja di-ulang-ulang untuk memunculkan nilai supranatural dari kenangan-kenangan yang selalu sulit untuk dilupakan berupa kebangkitan orang yang sudah mati.

Pada drama ini, kemunculan irasionalitas muncul pada benda yang dipercaya bisa mengubah garis takdir seseorang. Cakar monyet diyakini bisa mewujudkan keinginan bagi yang meminta pada benda itu. Berbeda dengan lampu aladin yang digosok, Cakar ini cukup diangkat ke atas dan ungkapkan apa yang diminta. Jin pun tidak keluar, tetapi permintaan akan terwujud beberapa hari langsung dan lengkap dengan tumbal yang dimintanya.

Kehadiran irasionalitas dibangun secara bertahap dengan menghadirkan dahulu realitas-realitas. Dibangun dari angka satu sampai angka yang dianggap oleh sutradara paling tinggi. Bermula dari sebuah perbincangan-perbincangan ringan seputar kehidupan sehari-hari. Masih pada realitas nyata karena semua orang juga mengalaminya. Plot mulai bergerak ketika Ayah menceritakan tentang Mayor. Sang Mayor menggerakan plot. Dia bahkan pembawa irasionalitas dengan Cakar Monyetnya yang bisa mengabulkan kata-kata jadi keinginan nyata.

Tokoh Ayah yang natural lalu disupranaturalkan. Melampaui garis kehidupan alami agar bisa meloncat kepada hal yang didambakannya. Cakar Monyet inilah membuat kedambaan Ayah menjadi lebih cepat dicapai. Sepertinya, jika tanpa Cakar monyet pun Ayah bisa memeroleh uang 125 juta untuk membeli tanah. Tanpa loncatan yang diberikan Cakar Monyet, pasti cita-citanya akan lama tercapai. Ayah mesti bekerja keras untuk meraih cita-citanya dan garis natural pun tetap lurus tanpa putus.

Efek horor memang wajar terjadi. Apa yang lebih menyeramkan Ketika keinginan justru dengan mudah diraih melalui tangan monyet yang dikeringkan. Apalagi menurut tokoh-tokohnya, cakar monyet itu meminta timbal balik berupa nyawa Agus. Bisa dibilang, Cakar Monyet kering yang hanya tergeletak jika di meja mampu membeli nyawa dengan harga yang murah. Bukankah sesuatu yang bisa ditebus adalah sesuatu yang bisa dibilang murah.

Kehadiran efek multimedia pada pertunjukan ini menjadi pendukung visulaisasi irasionalitas. Bayang-bayang ketakutan Ayah yang menyelimuti alam pikirannya menjalar ke setiap penjuru rumah berupa gambar-gambar monyet yang bergerak-gerak di dinding. Pigura foto keluarga berubah mejadi foto sepasang monyet. Lalu ketika kebangkitan Agus dari liang lahat, efek angin muncul. Angin Meniup gorden dan kerudung yang selalu dikenakan ibu untuk menghangatkan rasa pilunya atas kematian anaknya. Lampu merah pun turut menyinari ibu yang siap memeluk Agus. Efek-efek ini penting untuk sebuah kedetilan bentuk teater realis yang membangun irasionalitas cerita. Suasana hororpun niscaya terasa ke penonton.

Suspend pada plot cerita juga menjadi menarik ketika sang ayah mematikan kembali agus yang bangkit dari kubur. Tetapi setelah itu ibu memaksa dan melawan takdir kembali dengan menghidupkan Agus.

Meskipun demikian, ada yang patut disayangkan. Sebagai drama realis yang menawarkan kepiawaian aktor dalam memainkan perannya, para aktor cenderung agak tidak wajar dalam berakting. Agak mengherankan ketika terlalu banyak tertawaan pada pelepasan rindu antara Ayah dan Mayor. Mereka selalu tertawa sebelum berbicara kepada satu sama lain. Tokoh Agus yang membawa-bawa OVJ (Opera Van Java) sebuah acara di stasiun televisi swasta juga yang terkesan memaksa penonton agar tertawa.

Demikianlah, tepuk tangan para penonton menjadi penilaian yang cukup bahwa pementasan ini sangat layak dipentaskan di Teater Salihara. Tawaran wacana realis magis pun karena jarang diangkat dan dipentaskan di tanah air. Terlebih lagi ini akan menarik dan bukan saingan film-film komedi horor murahan yang justru lebih menawarkan buah dada dan paha daripada buah pemikiran menuju pencerahan.

Betapa mitos sebetulnya bukan sebuah olokan, tetapi sebuah gaya nasihat dalam bentuk yang khas.

*Penulis – Aktor dan penulis lepas. Bergiat di Teater Lakon UPI.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*