Home > Ciptaan > Ladang Perminus

Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesia Corruption Watch, mainteater bandung, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Perkumpulan Praxis sedang mempersiapkan pementasan teater LADANG PERMINUS yang diadaptasi dari novel Ramadhan KH (dengan judul yang sama).

Pentas bulan AGustus di Bandung (GK Rumentang Siang) dan Jakarta (Graha Bhakti Budaya TIM)

BANDUNG:

6 – 8 Agustus 2009

Pukul 14.00 WIB (pelajar)

6 – 7 Agustus 2009

Pukul 20.00 WIB (umum)

GK Rumentang Siang

Jalan Baranang Siang No. 1 Bandung

JAKARTA:

12 – 13 Agustus 2009

Pukul 14.00 & 20.00 WIB

Graha Bhakti Budaya TIM

Jalan Cikini Raya No. 73 Jakarta

don’t miss it!!

LATAR BELAKANG

Skandal demi skandal muncul dan menggerogoti neraca pembayaran minyak dan gas (migas) ke dalam kas negara. Media massa tak pernah kehabisan ide sekaligus bahan untuk menulisnya. Sebab, tradisi merampok di rumah sendiri telah berurat-berakar secara kuat di bidang migas ini. Harian Indonesia Raya, yang akhirnya dibredel untuk selamanya oleh rejim Orde Baru yang sangat korup merupakan media yang paling rajin menulis korupsi, kolusi, nepotisme dan kroniisme – di tubuh Pertamina. Pertamina bak sapi gemuk yang habis badan akibat diperah para penghuni dan penguasa negeri ini.

Anab Afifi dalam “Seabad Migas Indonesia: Dari Cengekraman Asing hingga Skandal Korupsi” (2007) menyebutkan keberhasilan media cetak mengendus KKN di Pertamina sebagai prestasi yang luar biasa. Sebab mengakses data keuangan di perut Pertamina saat itu merupakan hal yang mustahil. Transparansi audit keuangan masih menjadi barang langka. Oleh sebab itu, Indonesia Raya juga harus mati muda. Sementara korupsi dengan segala bentuk dan model yang mendarah daging di dunia industri minyak negara sulit, yang selalu disebut-sebut melibatkan Soeharto, keluarga, dan para kroninya di masa Orde Baru tak pernah terbongkar secara tuntas dan melegakan rakyat.

Pada edisi 30 Januari 1970 Indonesia Raya menulis, simpanan Ibnu Sutowo, pendiri dan direktur utama Pertamina, mencapai Rp. 90,48 miliar. Jumlah yang fantastis karena kurs rupiah saat itu hanya berada pada angka Rp. 400. Koran yang dipimpin oleh jurnalis sekaligus sastrawan Mochtar Lubis itu juga menurunkan tulisan tentang akibat jual beli minyak lewat jalur kongkalikong pimpinan Pertamina saat itu dengan pihak Jepang, yang merugikan negara hingga 1.554.590,28 dolar AS.

Lewat papernya yang banyak diposting di dunia maya itu Afifi juga menulis, pada 1975, Ibnu Sutowo mewariskan utang 10,5 miliar dolar AS. Utang ini nyaris membangkrutkan Indonesia. Penerimaan negara dari minyak saat itu hanya 6 miliar dolar AS. Ibnu memang mundur dari posisi direktur utama Pertamina (1976), namun utang dan dugaan korupsi itu tidak pernah masuk ke pengadilan. Jauh sesudah itu baru terbongkar kasus simpanan 80 juta dolar di berbagai bank milik almarhum H. Thaher, salah satu direktur pada jaman Ibnu. Melalui pengadilan yang berbelit-belit, Pertamina memenangi perkara tersebut.

Pada 1998 Menko Pengawasan dan Pembangunan Hartarto menyampaikan tekadnya untuk membersihkan Pertamina dari KKN. Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro juga menyatakan siap menyikat korupsi di Pertamina. Namun gurita bisnis kroni Soeharto yang bisa dipangkas bisa dihitung dengan jari. Departemen Pertambangan dan Energi mencatat ada sekitar 159 perusahaan milik anak, cucu, kerabat dekat, dan kroni Soeharto di Pertamina.

Selama 60 tahun terakhir, setidaknya terdapat begitu banyak skandal korupsi migas. Mulai dari Exxon Balongan, Ustraindo, Blok Cepu, hingga VLCC. Semuanya melibatkan penguasa dan kroninya, yang hingga hari ini tetap menyengsarakan rakyat.

Politik atau kebijakan bisnis migas di Indonesia pada kenyataannya hanyalah sebuah pipa sejarah skandal sekaligus arena untuk laku ekspolitatif terhadap manusia dan dunianya. Selain menjadi arena perampokan bagi para pengelolanya: aparatus negara yang berselingkuh dengan dunia kapital, ia juga menjadi jalan mulus bagi penganut paham binatang ekonomi untuk melanggengkan candu eksploitasi terhadap lingkungan (alam, sosial, ekonomi, politik dan kultur). Politik migas adalah sebuah alat penundukan dan penghisapan, yang mengabaikan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (rakyat), terutama hak-hak ekonomi, sosial dan budaya serta harmoni dunia manusia dengan segala kearifannya.

Masifnya daya rusak korupsi dan berbagai skandal ”ekonomi” di Pertamina, yang merupakan salah satu bentuk akut korupsi di dunia tambang serta berbagai jenis korupsi dan skandal ekonomi di Indonesia, telah melahirkan riak perlawanan balik dari masyarakat. Setelah nurani para jurnalis Indonesia Raya bicara dengan caranya, sastrawan Ramadhan KH, juga bicara. Berbeda dengan para jurnalis Indonesia Raya, Ramdhan yang juga jurnalis , berbicara melalui novel ”Ladang Perminus”. Melalui Ladang Perminus, Ramadhan mencoba membuat refleksi tentang dunia korupsi di Pertamina yang disebutnya Ladang Perminus.

Bersama riak balik perlawanan yang lain, riak balik jurnalis dan sastrawan terhadap korupsi (di Pertamina) berkembang menjadi arus balik perlawanan terhadap berbagai bentuk korupsi di Indonesia. Muncul berbagai organisasi masyarakat sipil hingga lembaga koasi negara seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Gerakan antikorupsi, yang beriringan dengan gerakan antikejahatan terhadap lingkungan dan antipelanggaran hak asasi manusia, terus bergerak dan saling menginspirasi dengan kalangan pekerja seni dan pegiatnya.

Mengangkat lakon ”Ladang Perminus” yang merupakan adaptasi dari novel yang sama ke atas panggung sebagai medium perlawanan terhadap korupsi, kejahatan lingkungan dan HAM sejumlah lembaga seperti Indonesian Corruption Watch (ICW), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Mainteater Bandung, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dengan dukungan ELSAM, Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Perkumpulan HUMA, INFID, KontraS Jakarta, Perkumpulan Praxis, Remdec, Voice of Human Rights dan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan mengadaptasi novel Ladang Perminus menjadi lakon yang akan dipentaskan di dua kota sebagai medium penyadaran terhadap pentingnya perawatan perlawanan terhadap korupsi, pelanggaran HAM dan penjahatan lingkungan.

SINOPSIS

Lakon Ladang Perminus diadaptasi dari novel karya Ramadhan KH berjudul sama Ladang Perminus. Seperti novelnya, lakon ini mengisahkan tokoh utamanya, Hidayat, seorang bekas pejuang Angkatan 45 yang bekerja sebagai manajer pada perusahaan minyak negara bernama Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus)

Hidayat dikisahkan sebagai sosok yang cerdas, jujur, idealis dan setia kepada hati nuraninya sendiri. Selama menjabat dia mencoba bertahan untuk tidak melakukan korupsi dan segala bentuk variannya yang menggelegak di kantornya. Gelegak dan gas korupsi di perusahaan migas itu akhirnya tercium aparat hukum.

Suatu hari beredar kabar bahwa sebuah tim tengah menyelidiki skandal korupsi di kantor itu. Tak pelak seluruh karyawan kantor diliputi ketakutan. Mereka segera berusaha menyelamatkan diri masing-masing dengan berbagai cara. Tetapi dasar dunia kooruptor, jalan yang dipakai pun jalan busuk. Antara lain mereka menyebar fitnah ke mana-mana. Fitnah ditembakkan ke arah orang-orang yang dianggap membahayakan.

Hidayat dan kawan-kawan yang menjalani karir dengan lurus menjadi sasaran empuk desingan peluru fitnah. Hasilnya Hidayat dan sejumlah temannya menjadi korban. Tanpa bukti kesalahan dia dibebastugaskan dari pekerjaannya alias dirumahkan.

Hidayat sangat terpukul oleh hukuman tersebut. Namun isterinya yang tidak kenal lelah dalam memberikan semangat membuatnya tertolong. Hidayat kemudian ”menghibur” diri dengan menangani usaha ternak yang telah dirintis sebelumnya sambil memberikan pelayanan konsultasi kepada para kontraktor asing yang mengetahui reputasinya. Kegiatan itu secara perlahan menyembuhkan rasa frustrasinya. Semangatnya pun bangkit.

Penyelidikan di Perminus berakhir. Hidayat tak terbukti bersalah. Dia pun dipanggil lagi untuk bekerja. Setelah aktif bekerja lagi, Hidayat diberi tugas oleh atasannya, Kahar, ke Singapura. Kahar adalah pimoinan penting perusahaan itu, namun juga menajdi sumber segala masalah di kantornya.

Tugas di Singapura dijalani Hidayat dengan baik. Hasilnya cemerlang. Namun Kahar yang bermaksud mencari untung bagi kepentingannya sendiri, menjegalnya. Kahar berhasil. Tapi karena takut perbuatannya terbongkar dia mencari jalan licik agar Hidayat jatuh. Saat Hidayat mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Barat, Kahar kembali menyebar fitnah. Hidayat kembali jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pensiun.

Suatu hari muncul kabar bahwa Kahar meninggal. Hidayat merasa lega. Tapi hanya sebentar. Sebab tak lama kemudian muncul kabar bahwa Kahar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Kekecewaan yang mendalam membuat Hidayat jatuh sakit.

Di rumah sakit dia sempat merenung. Dia menyadari bahwa manusia harus berjiwa besar dalam menghadapi kenyataan hidup meskipun berat dan sulit. Hari terus berjalan. Suatu hari kabar datang bahwa skandal korupsi di Perminus akhirnya terbongkar. Hidayat lega**

RAMADHAN KH, penulis novel

Ramadhan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadhan Karta Hadimadja, dilahirkan di Bandung, pada 16 Maret 1927, dan meninggal di kediamnnya saat tinggal di Cape Town, Afrika Selatan pada 16 Maret 2006 setelah menderita kanker prostat selama kurang lebih tiga bulan.

Ramadhan pernah bekerja selama 13 tahun sebagai wartawan Antara. Tetapi dia lalu minta berhenti karena tak tahan melihat merajalelanya korupsi. Tercatat sebagai mahasiswa ITB dan Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, namun kedua-duanya tidak tamat. Dia juga pernah bertugas sebagai redaktur majalah Kisah, redaktur mingguan Siasat dan redaktur mingguan Siasat Baru.

Semasa hidupnya Ramadhan terkenal sebagai penulis yang kreatif dan produktif. Ia banyak menulis puisi, cerpen, novel, biografi, dan menerjemahkan serta menyunting. Kumpulan puisinya yang diterbitkan dengan judul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan keliling Eropa pada 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya, Jawa Barat, sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Pada tahun 1965 Ramadhan sempat ditahan selama 16 hari di Kamp Kebon Waru, Bandung, bersama-sama dengan Dajat Hardjakusumah, ayah kelompok pemusik Bimbo yang saat itu menjabat pimpinan Kantor Antara Cabang Bandung. Keduanya ditahan karena dilaporkan bertemu A. Karim DP dan Satyagraha, pimpinan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat yang masa itu dianggap berideologi kiri dan mendukung G-30-S. Karena pertemuan itu keduanya dianggap pendukung G-30-S. Belakangan ia baru tahu bahwa mereka berdua difitnah kelompok lain agar dapat menguasai kantor Antara cabang Bandung. Sesudah 16 hari mendekam di tahanan, keduanya dibebaskan dan pimpinan pusat Antara memindahkannya ke Jakarta.

Pada hari-hari terakhirnya, Ramadhan kembali menekuni kegemarannya di masa lalu, melukis. Salah satu tema lukisan kesayangannya ialah rangkaian pegunungan di belakang rumahnya di Cape Town. Ia meninggal dunia tepat pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-79. Ia meninggalkan istrinya, Salfrida, dua orang putra dari Tines, Gilang dan Gumilang, dan lima orang cucu.

Ramadhan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain Southeast Asia (SEA) Write Award pada 1993. Pada 2001 ia diangkat menjadi anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia. Selain itu Ramadhan juga merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta. (Diolah dari wikipedia)

11.260 Comments, RSS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*